IQ Notes

IQ NOTES

Explore Our IQ Notes

IQ DEVPRO® Notes section provides insights on current issues and trends affecting society. Our expert analysis and commentary offer valuable perspectives on various topics, helping you stay informed and engaged with the latest developments. Explore our thought-provoking notes and stay ahead in a rapidly changing world.

heart illustration

Human Heart

Pernahkah anda memikirkan kenapa CINTA/LOVE selalu dilambangkan dalam bentuk HEART? (yang dalam bahasa inggris “heart” disini diterjemahkan sebagai jantung sebenarnya, bukan “hati”, karena hati lebih cocok diterjemahkan sebagai “liver”). Well, saya akan coba berikan pandangan sebagai berikut: Jantung, sebagaimana anda ketahui kalau anda dulu mengikuti pelajaran biologi SMP dengan baik dan benar, terdiri dari 4 (empat) bagian (chamber), yakni: serambi kanan, serambi kiri, bilik kanan, dan bilik kiri. Selain itu, jantung itu sendiri juga merupakan sumber utama kehidupan kita (perhatikan kasus ketika orang bisa koma pada otaknya, mereka akan masih bisa hidup, tapi tanpa jantung yang berdenyut bisa dipastikan orang tersebut akan mendapatkan titel baru yakni ALM.)

Read More »
silhouette photo of man on cliff during sunset

Memahami dan Menjalani Hidup

Mencoba memahami dan ataupun menjalani kehidupan tidaklah pernah mudah. Puluhan filsuf sejak dahulu mencoba memahaminya dengan cara memberikan definisi mengenai arti kehidupan dalam bermacam cara yang mereka bisa ungkapkan. Mungkin sama, mungkin juga berbeda. Dan tidak hanya para filsuf, saya yakin masing-masing dari Anda juga memiliki pandangan-pandangan yang berbeda dalam mendefinisikan pengertian tentang hidup. Perbedaan-perbedaan tersebut sebenarnya (kalau boleh saya katakan), tidak ada yang salah. Semuanya bisa jadi benar, dan bisa jadi juga, kesemuanya saling berbeda dan bahkan bertolak belakang 180 derajat. Kenapa bisa begitu? Jawabannya adalah karena (sayangnya) pendefinisian kita ataupun filsuf-filsuf tersebut tentang arti kehidupan ini sangat subjektif bukannya objektif.

Read More »

Logika vs Perasaan

Kalau anda pernah membaca buku-buku yang membandingkan psikologi pria dan wanita, seperti: Man are from Mars, Woman are from Venus atau Why Man don’t listen and woman cant read maps, anda akan kurang lebih bisa menyimpulkan dari buku-buku itu, bahwa salah satu hal mendasar yang menengarai perbedaan pria dengan wanita adalah penggunaan logika dan perasaan dalam setiap hal yang mereka alami. Mostly (saya katakan mostly, daripada anda mendebat dan membuktikan saya salah), pria akan lebih sering berfikir dan bertindak dengan menggunakan logika yang ada, fakta-fakta yang ada dan jelas, serta mempertimbangkan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa muncul. Wanita sebaliknya, perasaan lebih diutamakan, kebenaran dan norma hakiki yang ada bisa jadi lebih dipilih dan mengesampingkan logika yang mungkin terbaik untuk dilaksanakan.

Read More »

Kehidupan vs Kematian

Beberapa hari ini, saya mencoba untuk mendefinisikan suatu kata yaitu KEMATIAN sebagai “Suatu kondisi/keadaan dimana tidak adanya suatu kehidupan ataupun semangat hidup, baik disengaja maupun tidak, disadari maupun tidak, yang bisa terjadi secara sementara/temporer ataupun secara permanen.” Akan tetapi kemudian, definisi di atas akhirnya berkembang menjadi suatu pertanyaan lanjutan, yaitu: “Bagaimana dengan aspek mengenai nilai-nilai kehidupan?”

Read More »

Kacamata Senyum

Pernah saya membaca suatu artikel di suatu majalah yang sayang sekali saya lupa judul artikel dan majalahnya apa, tapi saya ingat dengtan persis bahwa artikel tersebut merupakan artikel yang dilengkapi dengan banyak foto-foto untuk menjelaskan lebih lugas kepada pembaca mengenai isi artikel tersebut. Memang benar kata mereka, a picture speaks a thousands word. Di artikel tersebut, terpampang foto seorang nenek ompong yang berpakaian seadanya, duduk di tangga rumah memandang kita. Foto beberapa anak yang berdesak-desakan di jendela rumah, saling berebut untuk menunjukkan muka polos dan kucel mereka kepada kamera.

Read More »

Bocah Pengamen

Beberapa waktu yang lalu, kembali kunaiki metromini itu. Warna jingganya yang mulai pudar terkadang membuatku berpikir, sudah berapa lama metromini ini bekerja, memutari puluhan trayek tiap harinya. Karat disana sini, membuat tongkat persneling kemudi susah untuk digerakkan oleh sopirnya. Sementara kursi logam yang ada dan sudah berlubang dimakan karat disana-sini juga membuat penumpang duduk dengan tidak nyaman. Seperti biasa, sekali waktu bocah-bocah berpakaian compang-camping ikut memasukinya secara bergantian, mengamen satu demi satu, mencoba mengetuk hati para penumpangnya dengan muka mereka yang memelas dan suara mereka yang kurang lebih amburadul, muka-muka yang berharap para penumpang metromini itu akan trenyuh dan menyisihkan beberapa recehan untuk mereka.

Read More »

Does our insight spark your curiosity or provoke your thoughts?