Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Tahun ini, slogan peringatan yang dipilih adalah “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju.” Tulisan ini saya buat menjelang pergantian hari menuju 18 Agustus, terinspirasi, atau mungkin lebih tepatnya, tergelitik, oleh sebuah status WhatsApp dari salah satu kolega yang menuliskan: “What does Independence Day mean to you now?”
Pertanyaan sederhana, namun dalam. Saya tidak sempat menanyakan kepadanya berapa banyak respon yang ia dapatkan setelah mem-posting status tersebut. Apakah berandanya dipenuhi dengan jawaban-jawaban yang idealis, sarkastis, optimis, pesimistis, atau justru hanya dibalas dengan stiker dan meme viral bernuansa komedi yang mengundang tawa.
Semua kemungkinan itu wajar. Makna kemerdekaan memang tidak bisa disederhanakan menjadi satu jawaban tunggal. Tidak bagi kolega saya, tidak bagi ratusan teman yang membaca status WA-nya, dan tentu tidak bagi ratusan juta rakyat Indonesia. Jawaban pasti akan beragam, dipengaruhi oleh tingkat ekonomi, pendidikan, dan pengalaman hidup masing-masing individu.
Sebagian mungkin menjawab dengan nada idealis: “Tanpa kemerdekaan yang diperjuangkan para pahlawan, mustahil kita bisa seperti ini, sekadar memegang HP dan menulis status WA dengan bebas.” Ada yang sarkastis: “Merdeka atau tidak, rasanya sama saja, tidak ada bedanya.” Sebagian lain optimis: “Saya yakin, 20 tahun lagi kita akan berjaya di tahun keemasan Indonesia 2045.” Dan tentu tidak sedikit pula yang pesimistis: “Lebih baik kabur saja dulu.”
Di sinilah menariknya. Tafsir kemerdekaan bisa begitu beragam, sesuai sudut pandang dan pengalaman hidup masing-masing orang. Ada yang menempatkannya sebagai warisan sejarah yang harus dijaga, ada yang melihatnya sebagai kesempatan untuk memperjuangkan kesejahteraan, ada pula yang mengaitkannya dengan ruang kebebasan berekspresi di tengah derasnya arus perubahan. Bagi generasi muda, kemerdekaan bisa berarti kebebasan untuk belajar dan berkarier di mana saja. Sementara bagi sebagian lainnya, kemerdekaan hanyalah sebuah seremoni tahunan yang kadang terasa jauh dari realita keseharian, dari harga beras, macetnya jalan, sampai sulitnya mencari pekerjaan.
Makna ini juga bisa berubah mengikuti fase hidup seseorang. Anak kecil mungkin menafsirkan kemerdekaan sebagai kebebasan bermain tanpa diatur orang tua. Seorang mahasiswa bisa melihatnya sebagai kesempatan menyuarakan aspirasi. Sementara pekerja atau kepala keluarga mungkin menafsirkan kemerdekaan dalam bentuk kemampuan memenuhi kebutuhan, melindungi orang-orang terdekat, atau terbebas dari jeratan utang. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas, ada yang melihat kemerdekaan sebagai perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, atau ketidakadilan.
Dengan kata lain, kemerdekaan bukan sesuatu yang statis. Ia adalah ruang terbuka, wadah yang bisa diisi dengan makna yang berbeda-beda sesuai dengan konteks zamannya. Apa yang dianggap esensi kemerdekaan di tahun 1945 tentu tidak sama dengan hari ini. Dulu, kemerdekaan identik dengan terlepas dari penjajahan fisik. Kini, tafsirnya bisa bergeser menjadi terbebas dari keterbelakangan, ketergantungan, bahkan dari belenggu pikiran kita sendiri.
Karena itu, jawabannya memang tidak akan pernah tunggal. Bisa idealis, sarkastis, optimis, atau pesimistis, sebagaimana sebuah status singkat di WhatsApp dapat memicu beragam respons. Tetapi, justru di situlah letak kemerdekaan: kebebasan untuk menafsirkan, mengisi, dan menentukan sendiri apa arti merdeka bagi kita masing-masing.
Kemerdekaan tidak hanya diwariskan, tetapi juga ditafsirkan ulang oleh setiap generasi. Delapan puluh tahun merdeka adalah panggilan, bukan sekadar peringatan. Kini giliran kita untuk menjawab: apa arti merdeka yang akan kita wariskan bagi generasi berikutnya?