Mandala Pandurata

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya.
Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Ir. Soekarno

Siapa yang tak pernah mendengar kutipan tersebut? Kalaupun ada, besar kemungkinan Anda bukan penggemar sejarah—atau mungkin termasuk generasi baru yang merasa bahwa sejarah hanyalah tumpukan buku usang yang membosankan. Namun bagi yang mengenalnya, kutipan ini begitu lekat dan mudah dikenali sebagai ucapan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.

Kutipan ini seakan tak pernah berhenti digaungkan di berbagai kesempatan—dari pidato resmi hingga selebaran poster digital—yang menekankan bahwa harapan masa depan bangsa terletak di pundak generasi muda. Namun, setidaknya bagi saya pribadi, karena terlalu sering terdengar, kalimat itu terasa mulai kehilangan gaungnya. Ia seolah berubah menjadi sekadar slogan: pembuka acara, penutup pidato, atau sisipan penyemangat yang kehilangan kedalaman makna.

Ingin rasanya kembali ke momen awal ketika Bung Karno pertama kali melontarkan kalimat itu—dengan suaranya yang khas, penuh keyakinan dan semangat juang: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Sebuah seruan yang pada masanya mampu membakar semangat rakyat, karena mereka merasakan perjuangan yang sama, dan menyimpan mimpi yang sama—melihat Indonesia tumbuh menjadi bangsa besar yang disegani dunia.

Refleksi yang datang tiba-tiba.

Saat saya menulis ini, sejatinya belum waktunya saya memikirkan kembali kalimat itu—terlebih karena peringatan Hari Sumpah Pemuda masih beberapa bulan lagi. Namun dalam sebuah komunitas baru yang saya ikuti, bersama para penerima beasiswa LPDP, entah mengapa pikiran dan hati saya tiba-tiba tertuju ke sana.

Komunitas ini adalah bagian dari agenda Persiapan Keberangkatan atau biasa disebut PK—sebuah program pembekalan yang menjadi penanda awal perjalanan kami sebagai penerima beasiswa negara. Sebagaimana angkatan-angkatan sebelumnya, kepengurusan dan sukarelawan dibentuk untuk menyusun agenda, mengkoordinasikan peserta, dan menentukan arah gerak kegiatan. Dan seperti tradisi yang diwariskan, kami diminta membentuk identitas angkatan: mulai dari nama, logo, maskot, OST (Original Soundtrack), hingga video persembahan. Saya sendiri memilih mundur satu langkah (hehe), karena meski merasa punya jiwa artistik, kemampuan desain saya sangatlah terbatas. Untungnya, banyak jiwa pemberani yang justru melangkah ke depan dan dengan sukarela mengemban amanah tersebut.

Bisa saja semua itu terdengar biasa—sekadar rangkaian tugas panitia dalam menyusun acara. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Ada semangat yang tak tampak, tapi terasa menyatu. Padahal anggotanya terdiri dari lebih dari 300 orang yang sebelumnya tak saling mengenal, dari berbagai provinsi dan suku yang berbeda, hanya disatukan melalui dunia maya, dan bahkan baru segelintir yang sempat bertatap muka langsung. Namun entah bagaimana, ada sebuah getaran kolektif yang lahir. Getaran yang pelan-pelan membentuk kebersamaan, kepercayaan, dan rasa memiliki—yang akhirnya menemukan momentumnya.

Hingga tibalah saat yang dinanti. Senin kemarin, hari pembukaan resmi PK kami. Meski nama, logo, dan maskot sudah diumumkan lebih dulu, para pengurus sengaja menyimpan OST dan video persembahan sebagai kejutan—katanya, biar surprise. Dan saat itulah lagu dan video mulai diputar.

Musiknya easy listening, musikalitasnya pas, suara penyanyinya indah, dan nadanya mudah diikuti siapa saja. Visualnya pun rapi, dengan transisi antar scene yang terasa mulus. Liriknya penuh harapan, menyuarakan optimisme bukan hanya untuk peserta, tapi juga untuk Indonesia. But that’s not all.

Ketika semuanya berpadu—musik, vokal, video, lirik—ditambah cuplikan aksi para peserta dalam video persembahan, dan susunan kata yang menyentuh, it all made me shiver. I trembled. I was breathless. It’s not just good. It’s not just great. It’s amazing what these board and volunteers accomplished in just a few weeks of preparation. Dan tepat di momen itu, saya terhanyut dalam gema suara Bung Karno yang menggelegar: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”

And now I know. I finally know. Setelah bertahun-tahun mencintai dan membanggakan Indonesia, setelah sekian kali mendengar kutipan itu, baru kali ini saya benar-benar merasakannya. Yes, Bung. I believe in you. Saya percaya, ketika sepuluh pemuda-pemudi memiliki cinta, harapan, dan semangat yang sama untuk Indonesia—maka dunia benar-benar bisa terguncang. We will rock the world, just like the video and the song did to me and us just now.

Bukan Sekadar Beasiswa, Tapi Amanah untuk Indonesia

Pada akhirnya, saya sadar. Bahwa negara—melalui LPDP—memberikan beasiswa bukan sekadar untuk membiayai pendidikan, melainkan karena mereka percaya pada janji yang terkandung dalam kata-kata Bung Karno. Bahwa ketika pemuda-pemudi diberi ruang untuk bermimpi, kesempatan untuk melangkah, dan akses untuk belajar—akan lahir guncangan besar yang mengubah wajah Indonesia.

Beasiswa ini bukan hanya soal dana. Ini tentang harapan. Harapan yang dititipkan kepada kita—yang dipercaya untuk menempuh pendidikan tinggi, dan kelak kembali membawa perubahan nyata. Mungkin bukan perubahan besar. Mungkin belum mampu mengubah dunia. Tapi cukup mengubah satu lingkungan, satu sistem, atau satu jiwa. Karena dari sanalah Indonesia bergerak.

Dalam salah satu tugas kami, kami diminta untuk membuat unggahan di media sosial mengenai penghargaan beasiswa ini dan rencana kontribusi kami ke depan. Sebagian dari kami mungkin merasa ragu. Malu. Takut dibilang sombong, takut dikira riya. Tapi sesungguhnya, ini bukan tentang pamer. Ini tentang menyalakan lilin kecil. Menularkan inspirasi.

Mungkin dari 1.000 orang yang melihat unggahanmu, sebagian mencibir, sinis, atau mengabaikan. Tapi jika hanya 4 orang saja yang terinspirasi—itu sudah cukup. Dan jika keempatnya menginspirasi 4 lainnya (16), lalu 16 menjadi 64, dan 64 menjadi 256, maka hanya dalam hitungan hari, akan lahir 256 nyala semangat baru.

Pelita tidak harus menerangi seluruh dunia sekaligus. Cukup satu hati, yang kelak akan menyalakan hati lainnya. Dan begitulah kekuatan sejati dari inspirasi—bukan yang memaksa, tapi yang menjalar. Bukan yang besar, tapi yang tumbuh, yang bersemi, dan juga berarti. Inilah bentuk terekspansinya semangat. Bukan demi popularitas, tapi demi keberlanjutan harapan.

Maka bagi kita, para penerima beasiswa, teruslah melangkah. Jangan tunggu semuanya sempurna untuk berkontribusi. Jangan hanya menjadi penerima. Jadilah pembawa. Pembawa perubahan, pembawa semangat, pembawa harapan.

Dan bagi Anda yang masih bermimpi dan berjuang meraih beasiswa (apa pun bentuknya), don’t give up now. Rest if you must, but get back up, and score it.

Karena tugas kita bukan hanya belajar demi gelar. Tapi belajar demi negeri. Demi Indonesia.

Selamat mengguncang dunia, wahai PK-256 Mandala Pandurata.
Mengukir jejak di Mandala, Pandu jalan untuk Nusantara.

Ir. Soekarno

Engkau hei pemuda pemudi yang ada di sini sekarang mengerjakan investment,
kerjakanlah pekerjaanmu itu sebaik-baiknya.

Kerjakanlah sebaik-baiknya oleh karena apa yang kau kejar sekarang ini ialah ilmu.
Dan ilmu itu bukan untukmu sendiri, tetapi ialah untuk anak cucumu,
untuk bangsa Indonesia, untuk rakyat Indonesia, untuk tanah air Indonesia,
untuk negara Republik Indonesia.

Share this IQ Notes: